CHAPTER 010 · 29/6/2025

Chapter 10 - Teman Baru

Arc 3: Jalur yang Terpisah 8 min read

Pasang iklan disini (766 x 96) Hubungi admin. *SNK Berlaku: No Judol, No Pinjol
Pasang iklan disini (766 x 96) Hubungi admin. *SNK Berlaku: No Judol, No Pinjol

Chapter 10: Teman Baru

Pagi itu, jalanan menuju Semarang terasa lebih sunyi dari biasanya. Matahari baru saja naik, embun masih menggantung di rerumputan liar yang tumbuh di sela-sela aspal retak. Tim Mbarep melangkah perlahan, beban ransel dan kecemasan menambah berat langkah mereka.

Kirana berjalan paling depan. Usianya beberapa tahun di atas Lydia, dan kini—setelah Mbarep memilih jalannya sendiri ke Ambarawa—melewati Muncul, ia otomatis menjadi orang tertua di tim tersebut, dan tanggung jawab memimpin kelompok otomatis jatuh ke pundaknya. Bahunya tegas, namun ada guratan lelah di wajahnya yang tak bisa disembunyikan. Ia paham risikonya, tapi tidak menunjukkan keraguan. Hatinya hanya bicara satu hal: terus berjalan.

Di belakangnya, Lydia berusaha menjaga semangat tim. Ia sesekali melontarkan candaan, menertawakan suara burung atau bentuk awan, tapi suaranya tak seceria biasanya. Arya dan Bima, Kakak beradik yang biasanya paling keras, kini lebih banyak diam dan saling bertukar pandang. Raditya, si bungsu tim, berjalan paling belakang, menunduk, jemarinya sibuk memainkan pisau kecil pemberian Arya—bukan untuk main, tapi untuk meredakan gemetar di dadanya.

Tak ada yang bicara soal Mbarep sejak pagi. Namun setiap kali mereka berhenti untuk minum atau mengatur ulang beban, nama itu selalu menggantung di udara, tak terucap namun tak pernah benar-benar pergi.

Belum ada 2 jam berlalu sejak perpisahan itu, namun rasanya seperti seminggu. Kirana tahu, setiap anggota tim menunggu ia bicara duluan. Ia akhirnya berhenti di bawah pohon trembesi besar, menoleh ke belakang.

Saat mereka melewati pohon trembesi besar di pinggir jalan, Kirana akhirnya berhenti. “Istirahat sepuluh menit di sini,” katanya sambil duduk di akar pohon.

Kirana menghampiri Lydia yang sedang bersandar di akar pohon, menghela napas. “Hei Lyd, menurutmu Mbarep benar-benar akan baik-baik saja kan?”

Lydia kemudian duduk, memeluk lututnya. Tatapannya kosong, menembus pepohonan, mencoba mencari arah Ambarawa yang kini tidak terlihat. “Aku percaya dia tahu apa yang dia lakukan,” katanya pelan. “Tapi… Mbarep itu orang yang suka menyimpan semuanya sendiri. Kadang aku takut dia terlalu keras ke dirinya sendiri.”

Arya yang duduk menyandar di batang pohon menimpali, “Dia tuh orangnya gitu. Suka bilang ‘Tenang aja’, padahal… bikin semua orang malah tambah mikir.”

Bima mengangguk, “Kalau dia kenapa-kenapa, kita cari bareng. Ke ujung dunia pun, gua ikut.”

Raditya hanya menunduk, suaranya nyaris tak terdengar, “Aku…” dia tak menyelesaikan suaranya, mungkin karena terlalu khawatir kepada Mbarep, suaranya tertahan di tenggorokan, tetapi seluruh anggota tim memahami maksud yang ingin disampaikan Raditya.

Lydia tersenyum tipis. “Kita harus tetap jalan. Aku yakin dia pasti nepatin janjinya buat on-time tiba di Semarang”

Senja turun perlahan. Perjalanan masih tiga-perempat jalan, saat ini mereka telah tiba di Ungaran dengan semburat jingga kemerahan, hampir tiba di perbatasan Kota Semarang. Mereka memutuskan beristirahat di lahan kosong di pinggir hutan kecil. Jalan utama yang biasa dipakai kini rusak, dan rombongan yang mereka bawa—orang-orang selamat dari Salatiga, termasuk anak-anak dan orang tua—sudah terlalu lelah untuk melanjutkan.

Kirana membagi tugas: Arya dan Bima mencari kayu bakar dan menyalakan api unggun; Lydia menyiapkan makanan dari sisa ransum yang mereka punya; Raditya mengisi botol dari sungai kecil yang tak jauh dari situ. Beberapa relawan lain ikut membantu mendirikan tenda darurat dari terpal dan kain seadanya.

Malam mulai turun dengan tenang. Angin malam berembus lembut, membawa suara jangkrik dan burung malam. Di sekitar api unggun yang sudah menyala, tim Mbarep duduk melingkar. Untuk pertama kalinya hari itu, suasana terasa sedikit lebih ringan.

Lydia mengeluarkan buku catatan dari ransel yang ia temukan pagi tadi. Buku lusuh dengan bekas coretan dan tempelan kertas kecil. “Ini punya Mbarep. Ada tulisan buat kita semua,” katanya sambil membuka halaman yang ia tandai. Ia membaca dengan suara tenang:

“Jangan takut gagal. Cerita selalu punya bab berikutnya. Kalau aku belum kembali, lanjutkan saja—karena kalian juga penulis di hidup kalian sendiri.”

Bima tertawa kecil, “Dasar Mbarep, selalu dramatis. Kek orang yang pergi mo mati aja.”

Arya menimpali, “EHHH HUSSS! GABAIK BIM! Lagian, bukannya kamu yang dramatis dan lebay Bim, apa kamu bilang kemarin Shadow Crimson ?”

Tawa kecil pecah dari tim Mbarep saat Bima dan Arya melontarkan candaan mereka. Obrolan pun mengalir—dari cerita ringan hingga gurauan yang tak berhenti—hingga akhirnya rasa kantuk perlahan menyergap, menandai lelah yang mulai menyapa tubuh mereka.

Mereka saling bertukar pandang, mengangguk pelan seolah mengirim semangat tanpa kata. Setelah itu, mereka sepakat untuk berjaga secara bergiliran, lalu satu per satu mulai berbaring, membiarkan malam merengkuh mereka dalam diam.

Sekitar tengah malam, suara retakan halus membangunkan Kirana. Bukan suara binatang biasa—lebih berat, seperti sesuatu yang menyeret dirinya di antara ranting.

Ia segera duduk, lalu merayap pelan ke Lydia yang berjaga di depan tenda.

“Lyd,” bisiknya. “Dengar gak?”

Lydia mengangguk. “Sejak tadi. Suaranya berat. Bukan babi hutan.”

Arya dan Bima yang tidur tak jauh sudah menggenggam senjata sederhana mereka. Raditya duduk memeluk lutut, wajahnya pucat, matanya tertuju ke kegelapan pepohonan.

Lalu, dari balik semak, muncul sosok asing.

Bentuknya kecil, tidak lebih besar dari anjing, tapi tubuhnya bersisik hitam legam. Mata merah menyala seperti bara api, dan setiap langkahnya seperti menghentak bumi. Napasnya berat, penuh dengusan.

“Siap!” Lydia berbisik sambil mengangkat tongkat. Ia menutup mata sesaat, mengaktifkan kemampuan spiritual yang diberikan oleh Konstelasinya.

[Analisis Spiritual]

Tipe Bakat Berkembang: Peringkat saat ini C+

Diskripsi: Memungkinkan melihat informasi dari target secara terbatas sesuai dengan kemampuan pengguna saat ini.

Dengan mengaktifkan kemampuan tersebut, Panel status muncul di hadapannya:

[Makhluk Tidak Dikenal]
Asal: Luar Menara
Level: ???
Status: Agresif, Kontaminasi Energi Tinggi
Kelemahan: Cahaya dan Serangan Beruntun

Monster itu meraung, lalu menerjang ke arah tenda. Kukunya merobek kain, peralatan beterbangan.

Arya melompat dan menusuk kakinya, Bima menghantam punggungnya. Tapi kulitnya terlalu keras—hanya luka kecil yang terlihat.

Lydia melempar batu ke arah mata monster, mengalihkan perhatian. Kirana menyalakan senter dan mengarahkan cahaya ke wajah makhluk itu. Ia mengerang, tampak terganggu.

Raditya, dengan tangan gemetar, melempar botol air ke arah mulut monster. Suara letupan kecil terdengar saat air menyentuh kulitnya. Makhluk itu meraung kesakitan.

Monster itu terus mengaum, suara raungannya menusuk malam. Namun, dari jarak yang lebih dekat, Lydia mulai melihat sesuatu yang berbeda. Di balik sorot matanya yang menyala, ada kebingungan… ada ketakutan.

Makhluk itu tidak menyerang untuk membunuh. Ia hanya… berusaha mendekat. Tubuhnya gemetar, gerakannya tak stabil. Setiap kali disorot cahaya, ia menyeringai bukan karena marah, tapi karena kesakitan.

Lydia menguatkan cengkeraman pada tongkatnya. Bisikan Konstelasi terdengar dalam kepalanya, memunculkan jendela notifikasi:

Konstelasi ‘Penjaga Cahaya Kahyangan’ mengirimkan pesan padamu: “Ia tersesat… bukan musuh. Buka hatimu, bukan senjatamu.”

Lydia menarik napas panjang. Ia melangkah ke depan, perlahan, meski tubuhnya bergetar.

“Kirana… Jangan serang dulu. Aku rasa dia bukan ancaman,” katanya pelan.

Arya menoleh dengan kening berkerut. “Apa maksudmu? Dia baru aja ngerobek tenda kita!”

“Lihat matanya,” bisik Lydia, suara tenangnya justru membuat semua orang berhenti. “Itu bukan tatapan makhluk pembunuh. Itu… anak yang kelaparan.”

Makhluk itu berhenti di tengah langkahnya, tubuhnya sedikit goyah. Dari balik sisiknya yang retak-retak, terlihat luka terbakar di sisi lehernya. Seolah energi menara telah mencemari tubuhnya secara perlahan, membuatnya bingung, kesakitan, dan akhirnya… menjadi liar.

Lydia berlutut. Ia membuka kantung ransum, mengambil sepotong ubi rebus dari makan malam mereka yang belum habis.

Dengan hati-hati, ia meletakkannya di tanah, lalu mundur beberapa langkah.

“Coba makan ini,” katanya lirih, “Kalau kamu lapar… kita bisa bantu.”

Makhluk itu mendekat, pelan. Matanya tak lagi menyala terang, kini meredup. Ia mencium makanan itu, dan setelah ragu sejenak, menjilatnya dengan lidah kecil bercabang. Saat lidahnya menyentuh makanan, seberkas cahaya lembut muncul dari tubuhnya—seperti kilau debu bintang yang terhempas angin malam.

Seketika, tubuh Lydia ikut bercahaya samar. Konstelasinya aktif sendiri, memancarkan aura kehangatan. Ia tersentak, namun tidak melawan. Sebuah panel muncul di hadapannya:

[Skill: Pemurnian – Terpicu]
Jenis: Spontan - Tidak dapat diaktifkan secara mandiri
Efek: Menstabilkan kontaminasi energi menara
Pemakai: Lydia – Bakat Sahabat Energi (Tingkat Rendah)

Lydia memejamkan mata, membiarkan kekuatan itu mengalir dari dadanya ke udara malam. Cahaya hangat menyelimuti makhluk kecil itu. Sisiknya yang hitam mulai memudar, berganti dengan warna keemasan lembut. Tubuhnya menyusut sedikit, menyesuaikan bentuk aslinya—mirip naga kecil berbulu halus, dengan tanduk mungil dan cangkang bulat di punggungnya.

“Apa… itu?” tanya Raditya terpana.

Kirana mendekat perlahan. “Warak?” bisiknya.

Makhluk itu mengedip pelan, lalu bersuara kecil—lebih seperti cicitan burung daripada raungan tadi. Ia menggulingkan tubuhnya, memamerkan perut bulat, lalu menggosokkan kepalanya ke kaki Lydia seperti anak kucing manja.

Lydia terkekeh. “Dia… bayi Warak Ngendog.”

Bima mendesis kagum. “Makhluk mitos Semarang itu? Yang katanya penjaga antara dunia manusia dan roh?”

“Iya,” jawab Lydia pelan. “Tapi ini masih bayi. Dan kehilangan orang tuanya… lalu terkontaminasi.” Lydia menceritakan apa yang dia rasakan dari bayi tersebut. Kekuatan yang baru saja diaktifkan tersebut membuat Lydia dapat memahami makhluk spiritual dengan lebih baik.

Warak kecil itu menaikkan kepalanya, lalu menatap mereka satu per satu. Mata merahnya kini berubah menjadi keperakan lembut. Ia menjilat tangan Lydia, lalu meloncat pelan ke arah Raditya. Anak itu tersentak, tapi Warak hanya duduk di pangkuannya, mengeluarkan suara dengkur lembut seperti bayi kekenyangan.

Raditya menatap Lydia, lalu tersenyum malu-malu. “Namain dia dong…”

“Hmm…” Lydia menatap cangkang kecil di punggungnya. “Endhog.”

Arya tertawa, “Serius? itu Artinya Telur Kan ?”

“Endhog artinya memang telur,” Bima menimpali. “Aku cuma ngelihat cangkang dia, terlihat seperti Telur. Udahlah kita serahin penamaan pada Mbarep aja nanti.” Lydia menanggapi dengan kesal.

Mereka semua akhirnya tertawa. Tawa yang sudah lama tak terdengar. Hangat, jujur, dan melegakan.

Warak kecil itu menggeliat lalu menggulung di dekat api unggun. Lidah apinya memantulkan cahaya ke sisiknya yang kini bersih dan bercahaya. Rasa takut mereka pelan-pelan menghilang, diganti dengan perasaan baru—semangat, dan harapan.

Kirana merebahkan diri, menatap langit yang berbintang. Untuk pertama kalinya sejak Mbarep pergi, ia tersenyum tanpa beban.

Warak Ngendog

“Selamat datang di tim, yaa,” gumamnya.

Angin malam bertiup pelan. Daun-daun berbisik, seolah alam sendiri ikut mengamini kebersamaan yang baru lahir.

Malam itu mereka tidur lebih nyenyak. Tak lagi dibayangi rasa khawatir, tapi dilingkupi oleh ketenangan baru. Bukan karena segalanya sudah pasti… tapi karena mereka tahu, selama mereka tetap bersama, tak ada langkah yang benar-benar sendiri.

Di kejauhan, di balik perbukitan yang membentang ke barat, sebuah pulau ditengah danau Rawa Pening, di bawah langit yang sama, Mbarep membuka matanya—sendirian, meneruskan ujian berikutnya ke Kuil Harmoni.

Pasang iklan disini (766 x 96) Hubungi admin. *SNK Berlaku: No Judol, No Pinjol
Pasang iklan disini (766 x 96) Hubungi admin. *SNK Berlaku: No Judol, No Pinjol
Konten dilindungi.
Reaksi Kamu Terhadap Chapter Ini ...

Komentar

Memuat...
Live Preview
Urutkan: