PROLOG - Awal yang tak tertulis
Salatiga, siang hari, beberapa jam sebelum dunia berubah. Angin sore berembus pelan menyusuri jalanan Salatiga yang biasanya damai. Daun-daun pohon hanya bergoyang sedikit, tapi udara t...
Arsip Tag
18 chapter
Salatiga, siang hari, beberapa jam sebelum dunia berubah. Angin sore berembus pelan menyusuri jalanan Salatiga yang biasanya damai. Daun-daun pohon hanya bergoyang sedikit, tapi udara t...
Mbarep terbangun di lantai kamarnya, masih dengan pakaian yang sama. Cahaya dari luar tidak lagi terang, tetapi keunguan, seolah-olah langit telah mengganti spektrum warnanya. Listrik d...
Mbarep memandangi punggung Lydia yang menjauh, perasaan hangat dan sedih bercampur di dadanya. Mereka berdua sama-sama dewasa sekarang, sama-sama punya beban masing-masing. Tapi entah k...
Enam jam sebelum Skenario Pertama dimulai. Langit di atas Salatiga sudah tak lagi bergemuruh, tapi masih menyisakan warna ungu yang membuat suasana terasa aneh dan belum tenang. Di Shel...
Saat mereka berjalan melewati area barak tengah, mata Mbarep menangkap dua sosok mencolok: sepasang pemuda dan pemudi dengan seragam hitam khas silat beladiri. Keduanya berdiri tenang d...
Saat cahaya biru memudar, dunia berubah. Bukan sekadar pemandangan yang berganti, tapi hukum realitas itu sendiri. Ratusan penantang dari berbagai penjuru Shelter Zona 07 muncul bersama...
Panggung kayu itu mengeluarkan suara derit menyakitkan saat papan-papannya terangkat oleh kekuatan yang tak kasatmata. Dari celah lantai, muncul makhluk penjaga dengan aura ketakutan...
Alun-alun Salatiga diselimuti diam. Debu masih mengepul dari tanah retak, serpihan logam berserakan bersama bau hangus dan darah. Menara Rengkah Jagad berdiri membisu—raksasa yang telah...
Shelter Zona 07 dipenuhi aktivitas persiapan keberangkatan menuju Semarang. Matahari mulai menunjukkan dirinya dari balik reruntuhan kota, menyinari wajah-wajah lelah para penantang yan...
Jalan setapak dari air yang mengeras membawa Mbarep semakin jauh dari tepi danau. Setiap langkahnya menimbulkan riak biru di permukaan, dan suara gemericik air di sekitarnya tidak seper...
Pagi itu, jalanan menuju Semarang terasa lebih sunyi dari biasanya. Matahari baru saja naik, embun masih menggantung di rerumputan liar yang tumbuh di sela-sela aspal retak. Tim Mbarep...
Hembusan udara dingin menyambut Mbarep saat ia menapaki gerbang batu yang dipahat naga. Sengatan aroma damar dan kemenyan menguar samar, berpadu dengan bau tanah basah setelah hujan—tap...
Kristal kedua di genggaman Mbarep terasa dingin, sebuah penanda bisu atas kemenangannya dalam kesedihan yang berhasil diikhlaskannya. Setelah berhasil melewati ujian Tanah dan Air, ia m...
Jalan menuju pilar terakhir terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan. Setiap langkah terasa berat, seolah gravitasi di dalam kuil ini meningkat sepuluh kali lipat. Ruangan di ha...
Pagi merekah di tepian Ungaran, menyapu sisa-sisa embun malam dari puing-puing peradaban. Udara terasa dingin dan tegang. Rombongan Salatiga yang berjumlah 41 orang berkumpul dengan gel...
Kesadaran Mbarep telah kembali, bukan sebagai ledakan, tetapi sebagai riak lembut di lautan ketiadaan. Mbarep "terbangun", jika itu bisa disebut demikian. Ia tidak memiliki tubuh, tidak...
Udara sore di Semarang membawa aroma yang berbeda dari Salatiga. Di sini, bau tanah basah setelah hujan bercampur dengan aroma samar garam dari laut yang tak jauh, dan asap dari tungku-...
Sore mulai merambat di Shelter 11 Jatidiri. Cahaya matahari yang menembus celah-celah awan memberikan warna jingga keemasan pada Menara Candhi Waringin yang menjulang di kejauhan. Suara...